Dunia Telah Menganggarkan Rp. 159,9 Kuadriliun Hanya Untuk Mengatasi COVID-19

 

Halo sahabat EB! Beberapa waktu yang lalu, saya dikejutkan dengan pemberitaan seputar COVID-19. Tidak terpikirkan oleh saya, bahwa COVID-19 ini telah menghabiskan dana Rp. 159,9 kuadriliun atau US$ 11 Triliun yang tentu saja bukan nominal yang sedikit. Dana tersebut telah diinduksikan untuk membantu mengatasi dan memberikan pemulihan ekstra untuk kesehatan masyarakat dunia dan juga stimulisasi kembali perekonomian pada masing-masing negara yang terdampak pandemi. Namun, apakah progresi yang telah terjadi tergolong normal dari sudut pandang ekonomi? Mari kita simak penjelasan berikut ini.


1. Pandemi COVID-19 Merupakan Tantangan Ekonomi Global


Perekonomian dunia telah mencapai titik di mana harus bisa survive dan beradaptasi dengan COVID-19. SDM yang merosot dan terhambatnya pertumbuhan serta pembangunan ekonomi merupakan faktor yang harus dihadapi masing-masing negara terdampak. Beberapa inovasi dan konsolidasi telah dilakukan oleh banyak negara terdampak demi menjaga kelangsungan perputaran perekonomian dengan melakukan transisi ekonomi dengan e-commerce. 


2. Pilihan yang Dilematis, Ekonomi atau Kesehatan? 


Pandemi telah menghambat pembangunan ekonomi khususnya dalam makroekonomi yang memiliki arti bahwa pandemi ini telah berpengaruh terhadap suatu kegiatan yang bersifat agregat dari suatu perekonomian. Ekonomi tidak akan berjalan tanpa adanya SDM yang baik dan komplatibel untuk surplus pertumbuhannya. SDM yang prima membutuhkan tingkat kesehatan yang baik, pendidikan yang reliabel, dan pengalaman korelatif yang baik pada masing-masing sektor perekonomiannya. Hal ini tidak bisa direalisasikan tanpa adanya kesehatan yang baik.


Dilema yang terjadi pada saat pandemi seperti saat ini membutuhkan pengorbanan yang harus dilakukan dan kecerdasan pemerintah serta peran masyarakat dalam menentukan opportunity cost yang memiliki arti suatu biaya peluang yang dikorbankan atas pilihan yang telah dipilih.


3. Ekonomi Politik yang Terganggu


Ekonomi politik merupakan suatu hal yang vital terhadap kehidupan perekonomian suatu negara. Pembatasan interaksi merupakan penyebab utama terganggunya stabilitas ekonomi politik yang seharusnya bisa menjaga interdependensi antara institusi pemerintah dengan kebijakan fiskalnya, Bank dengan kebijakan moneternya, dan berbagai sektor kegiatan perdagangan internasional.


Kesimpulan pada artikel yang saya induksikan adalah perekonomian tidak akan berjalan tanpa adanya sinergitas kesehatan SDM yang reliabel. Dunia memang telah menganggarkan dana cukup banyak dalam implementasinya mengurangi virus COVID-19. Adaptasi perlu dilakukan agar tidak terkubur oleh pandemi yang merugikan ini. Bagaimana sahabat EB? Nyatakan pendapatmu di kolom komentar. See you!


[“Mentor EB adalah divisi yang dibuat oleh EB tahun 2020 lalu. Tujuannya untuk menerbitkan konten yang berkualitas dan juga bisa membimbing kalian yang ingin menerbitkan postingan di grup ini. Kamu bisa menghubungi saya atau mentor lain jika kamu bingung dan butuh bantuan.”]


Sumber Berita:

[1] Febriana, Sylke. 2021. "Gila! Cuma Buat Lawan Corona, Dunia Habiskan Rp. 159,5 Kuadriliun". https://finance,detik,com/berita-ekonomi-bisnis/d-5658334/gila-cuma-buat-lawan-corona-dunia-sudah-habiskan-rp-1595-kuadriliun diakses pada tanggal 10 Agustus 2021.


Sumber Pustaka:

[1] Winarno, Sigit. 2015. "Kamus Besar Ekonomi". Bandung: Pustaka Setia. ISBN: 978-979-076-132-2.

[2] Rahardja, Pratama. 2015. "Eksplorasi Nalar Siswa Ekonomi Untuk SMA/MA Kelas X". Jakarta: Yrama Widya.


Sumber Gambar:

[1] Wall Street Journal documentary.